Minggu, 03 November 2019

KEPEMIMPINAN ?

PERBEDAAN ERA ORDE BARU DENGAN PASCA REFORMASI
Orde baru atau disingkat dengan orba yang di pimpin dengan presiden kedua yaitu Soeharto merupakan masa yang dikenal dengan sistem otoriternya, dimana kebebasan masyarakat sangat di batasi oleh presiden. Selain itu juga hadirnya peran TNI dalam mengamankan dan mengontrol publik membuat masyrakat semakin tertekan saat mengemukakan pendapat mengenai negara. Sama halnya seperti pemilihan umum pada masa itu cenderung adanya campur tangan oleh negara mengenai pilihan rakyat. Terbukti adanya unsur paksaan yang dilakukan dengan cara harus memilih partai golkar.  Dan juga maraknya kasus korupsi yang terjadi dengan banyaknya anggaran dan pendapatan Negara yang hanya di nikmati oleh oknum pejabat dan para kroninya. Serta perhatian pemerintah ketika itu hanya memperhatikan wilayah jawa saja atau java sentries, sehingga hal ini membuat ketidak merataan pembangunan di wilayah – wilayah lainnya.
Sedangkan pasca reformasi kebebasaan pers dan kebebasan dalam penyampaian pendapat diberikan perlindungan kepada Negara. Masyarakat menjadi bebas dalam ikut serta melakukan controlling ke pemerintah. Dalam hal pemilu juga masyarakat diberikan kebebasan untuk memberikan hak suaranya terhadap partai manapun dan tidak ada unsure paksaan dan intimidasi dari pemerintah. Rakyat juga bisa memilih secara langsung dalam pemilu tanpa harus di wakilkan. Begitu pun dalam kasus korupsi, pasca reformasi pemerintah langsung menyuarakan gerakan anti korupsi dengan membentuk badan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

PERBEDAAN MENCOLOK GAYA KEPEMIMPINAN
Ketika berbicara tentang gaya kepemimpinan rezim orde baru pasti telah terbayang dengan kekejaman yang menebar ketakutan hingga tak ada yang berani membantahnya. Seorang pimpinan yang otoriter akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakutannya. Mereka cenderung mengutamakan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepengtingan dan kebutuhan para bawahannya.  Gaya otoriter ini memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
Gaya kepemimpinan ketika orba terlihat jelas bahwa pembawaan yang digunakan kala itu masih dengan gaya kepemimpinan yang otoriter. Dengan model kepemimpinan ala militer ini membuat kondisi masyarakat semakin sadar dan paham tentang hakikat Negara demokratis, sehingga masyarakat memberikan perlawanan untuk mengalami perubahan dengan sebuah adanya gerakan reformasi dalam melengserkan presiden Soeharto. Para orde ini, tidak memperdulikan para bawahan dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk masyarakat karena semua telah di atur oleh pemimpin negara.
Sedangkan pada era reformasi, gaya kepemimpinan lebih demokratik dengan mulai melibatkan elemen masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan untuk sebuah negara. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku coordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. Gaya kepemimpinan pasca reformasi pemimpin yang demokratik pastinya banyak disegani bukannya ditakuti oleh oleh masyarakat. Memperlakukan masyarakat dengan cara yang manusiawi dan menunjang harkat dan martabat manusia, serta menyesuaikan pembagian tugas dan perannya sesuai tingkatan kemampuannya. Dalam rezim ini berbeda dengan otoriter yang terkenal sangat keras dan kasar, para era ini, memperlakukan manusia dengan cara yang lebih manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat sesame manusia.

KENAPA PEJABAT TIDAK BERHASIL NAIK KELAS KEPEMIMPINANNYA?
Karakteristik yang dimiliki antar pejabat itu berbeda. Dalam meningkatkan level dalam kepemimpinan harus didorong dengan adanya niat dan membuat sebuah perubahan yang dapat menginspirasi. Tak hanya itu, kurangnya kemampuan seorang pemimpin sebagai penunjang naik level kepemimpinan tersebut.  Sebuah kepemimpinan dilihat dari cara seseorang memimpin suatu organisasi, karena jiwa kepemimpinan harus diasah dan dikembangkan.
Semakin baik memimpin maka akan semakin baik pula kapasitas organisasi sehingga dengan ini seseorang yang menjadi pejabat akan mampu naik kelas level kepemimpinananya. Terlebih lagi apabila pejabat tersebut telah mampu menguasai 5 tingkatan kepemimpinan, yaitu :
LEVEL 1 : POSISI, pada level ini orang-orang mengikuti Anda karena tidak adanya pilihan. Hal ini terjadi karena Anda memiliki kedudukan/posisi sebagai atasan.
LEVEL 2 : IZIN, pada level ini orang-orang mengikuti Anda karena mereka ingin dan menikmati. Mereka senang bekerja dengan Anda dan ada didalam tim Anda. Energi meningkat secara signifikan dibandingkan dengan level 1. Energi memang sangat terkait dengan hubungan baik. Anda senang dengan tim Anda dan peduli pada mereka. Sinergi antara Anda dan tim Anda berjalan dengan baik.
LEVEL 3 : PRODUKSI, artinya pemimpin menjadi tauladan atau panutan sehingga dapat menghasilkan anggota atau pengikut ysng berkompeten.
LEVEL 4 : PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA, pemimpin mampu memberikan anggota dan pengikutnya sebuah tugas dan peran yang sesuai dengan tingkatan kemampuannya.
LEVEL 5 : PUNCAK, pemimpin mampu menghormati perbedaan pendapat kepada anggota atau pengikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar