PERBEDAAN ERA ORDE BARU DENGAN PASCA REFORMASI
Orde baru atau disingkat dengan orba yang di pimpin dengan presiden kedua yaitu Soeharto merupakan masa yang dikenal dengan sistem otoriternya, dimana kebebasan masyarakat sangat di batasi oleh presiden. Selain itu juga hadirnya peran TNI dalam mengamankan dan mengontrol publik membuat masyrakat semakin tertekan saat mengemukakan pendapat mengenai negara. Sama halnya seperti pemilihan umum pada masa itu cenderung adanya campur tangan oleh negara mengenai pilihan rakyat. Terbukti adanya unsur paksaan yang dilakukan dengan cara harus memilih partai golkar. Dan juga maraknya kasus korupsi yang terjadi dengan banyaknya anggaran dan pendapatan Negara yang hanya di nikmati oleh oknum pejabat dan para kroninya. Serta perhatian pemerintah ketika itu hanya memperhatikan wilayah jawa saja atau java sentries, sehingga hal ini membuat ketidak merataan pembangunan di wilayah – wilayah lainnya.
Sedangkan pasca reformasi kebebasaan pers dan kebebasan dalam penyampaian pendapat diberikan perlindungan kepada Negara. Masyarakat menjadi bebas dalam ikut serta melakukan controlling ke pemerintah. Dalam hal pemilu juga masyarakat diberikan kebebasan untuk memberikan hak suaranya terhadap partai manapun dan tidak ada unsure paksaan dan intimidasi dari pemerintah. Rakyat juga bisa memilih secara langsung dalam pemilu tanpa harus di wakilkan. Begitu pun dalam kasus korupsi, pasca reformasi pemerintah langsung menyuarakan gerakan anti korupsi dengan membentuk badan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
PERBEDAAN MENCOLOK GAYA KEPEMIMPINAN
Ketika berbicara tentang gaya kepemimpinan rezim orde baru pasti telah terbayang dengan kekejaman yang menebar ketakutan hingga tak ada yang berani membantahnya. Seorang pimpinan yang otoriter akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakutannya. Mereka cenderung mengutamakan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepengtingan dan kebutuhan para bawahannya. Gaya otoriter ini memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
Gaya kepemimpinan ketika orba terlihat jelas bahwa pembawaan yang digunakan kala itu masih dengan gaya kepemimpinan yang otoriter. Dengan model kepemimpinan ala militer ini membuat kondisi masyarakat semakin sadar dan paham tentang hakikat Negara demokratis, sehingga masyarakat memberikan perlawanan untuk mengalami perubahan dengan sebuah adanya gerakan reformasi dalam melengserkan presiden Soeharto. Para orde ini, tidak memperdulikan para bawahan dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk masyarakat karena semua telah di atur oleh pemimpin negara.
Sedangkan pada era reformasi, gaya kepemimpinan lebih demokratik dengan mulai melibatkan elemen masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan untuk sebuah negara. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku coordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi. Gaya kepemimpinan pasca reformasi pemimpin yang demokratik pastinya banyak disegani bukannya ditakuti oleh oleh masyarakat. Memperlakukan masyarakat dengan cara yang manusiawi dan menunjang harkat dan martabat manusia, serta menyesuaikan pembagian tugas dan perannya sesuai tingkatan kemampuannya. Dalam rezim ini berbeda dengan otoriter yang terkenal sangat keras dan kasar, para era ini, memperlakukan manusia dengan cara yang lebih manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat sesame manusia.
KENAPA PEJABAT TIDAK BERHASIL NAIK KELAS KEPEMIMPINANNYA?
Karakteristik yang dimiliki antar pejabat itu berbeda. Dalam meningkatkan level dalam kepemimpinan harus didorong dengan adanya niat dan membuat sebuah perubahan yang dapat menginspirasi. Tak hanya itu, kurangnya kemampuan seorang pemimpin sebagai penunjang naik level kepemimpinan tersebut. Sebuah kepemimpinan dilihat dari cara seseorang memimpin suatu organisasi, karena jiwa kepemimpinan harus diasah dan dikembangkan.
Semakin baik memimpin maka akan semakin baik pula kapasitas organisasi sehingga dengan ini seseorang yang menjadi pejabat akan mampu naik kelas level kepemimpinananya. Terlebih lagi apabila pejabat tersebut telah mampu menguasai 5 tingkatan kepemimpinan, yaitu :
• LEVEL 1 : POSISI, pada level ini orang-orang mengikuti Anda karena tidak adanya pilihan. Hal ini terjadi karena Anda memiliki kedudukan/posisi sebagai atasan.
• LEVEL 2 : IZIN, pada level ini orang-orang mengikuti Anda karena mereka ingin dan menikmati. Mereka senang bekerja dengan Anda dan ada didalam tim Anda. Energi meningkat secara signifikan dibandingkan dengan level 1. Energi memang sangat terkait dengan hubungan baik. Anda senang dengan tim Anda dan peduli pada mereka. Sinergi antara Anda dan tim Anda berjalan dengan baik.
• LEVEL 3 : PRODUKSI, artinya pemimpin menjadi tauladan atau panutan sehingga dapat menghasilkan anggota atau pengikut ysng berkompeten.
• LEVEL 4 : PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA, pemimpin mampu memberikan anggota dan pengikutnya sebuah tugas dan peran yang sesuai dengan tingkatan kemampuannya.
• LEVEL 5 : PUNCAK, pemimpin mampu menghormati perbedaan pendapat kepada anggota atau pengikutnya.
Minggu, 03 November 2019
Sabtu, 02 November 2019
MENGAPA HARUS ADA PEMIMPIN?
THE WAY LEADERS GET THEIR POWER
VERSI 2
Di ulasan kita kali ini kita akan
sama – sama melihat bagaimana seorang
pemimpin dalam menggunakan kekuasaanya? Sampai dimanakah level kepemimpinannya?
Lalu apakah pemimpin itu seorang politisi atau seorang negarawan? Saat seseorang
menjadi pemimpin ia memiliki kekuasaan untuk melahirkan kebijakan – kebijakan
dan program. Dalam hal ini Gubernur Kalimantan Utara sudah banyak memberikan
kebijakan – kebijakan dalam rangka memajukan provinsi Kalimantan Utara. Dalam menggunakan
kekuasaannya kita dapat melihat, banyaknya kegiatan maupun program yang berasal
dari kebijakan gubernur Irianto Lambrie yang terlaksan dan tidak banyak yang
mendapat penolakan. Karena pada hakikatnya seorang pemimpin harus mampu
mempengaruhi bawahannya agar sama – sama mencapai visi dan misi milik pemimpin
tersebut.
Lalu
kita akan sama – sama melihat sampai dimanakah level kepemimpinan dari gubernur
Kalimantan Utara. setelah kita melihat gaya kepemimpinannya, Gubernur
Kalimantan Utara ini lebih cenderung kepada bagaimana cara dirinya untuk selalu
menjalin hubungan dan mempengaruhi bawahannya untuk sama – sama membangun
Kalimantan Utara lebih baik lagi. Dengan selalu memaksimalkan kerja
karyawannya. Dengan begitu kita dapat melihat bahwa kita dapat melihat bahwa
level kepemimpinan gubernur Irianto Lambrie adalah Level Permission atau
Hubungan.
Setelah
kita melihat Gaya kepemimpinan Gubernur Irianto Lambrie hingga Level kepemimpinannya.
Kita akan sama – sama melihat apakah ia adalah seorang politisi atau seorang
negarawan. Perlu sama – sama kita ketahui seorang politisi sangan berbeda
dengan seorang negarawan. Seorang politisi memiliki sifat yaitu ambisius dalam
mendapatkan kekuasaan, dan juga hanya memikirkan bagaimana cara ia untuk
mencalonkan diri kembali. Berbeda dengan negarawan yang memikirkan bagaimana
cara memajukan negaranya bukan hanya hari ini tapi juga untuk jangka waktu yang
tidak terhingga, ia tidak teriming- iming jabata. Jika kita melihat gubernur
Kalimantan Utara ini, ia masih cenderung ke politisi, karena setelah ia melihat
bagaimana kelemahan Kalimantan utara saat ia menjadi Pj Gubernur ia pun mencari
strategi untuk maju pada pemilihan Gubernur tahun 2015. Dan akhirnya terpilih
menjadi Gubernur Kalimantan Utara tahun 2016 – 2021. Tetapi ia juga bisa
dibilang sebagai negarawan, karena setelah ia melihat kekurangan – kekurangan yang
terjadi selama ia menjadi Pj Gubernur, ia pun berencana untuk merampungkan
permasalahan tersebut.
MENGAPA HARUS ADA PEMIMPIN?
THE
WAY LEADERS GET THEIR POWER
VERSI
1
Dalam kehidupan
semua manusia sudah dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Mungkin jika
tidak diasah, jiwa kepemimpinan tersebut tidak akan terlihat. Untuk menjadi
seorang pemimpin tidaklah muda, ada proses panjang yang mewarnai jalan
seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Yang paling pertama harus
diperhatikan adalah proses pemimpin untuk dapat memimpin dirinya sendiri. Dalam
bidang politik, seorang pemimpin juga harus mengikuti alur prosesnya untuk
menjadi seorang pemimpin. Apa sajakan faktor pendorong untuk nantinya terpilih menjadi seorang pemimpin.
Lalu proses apa sajakah yang dapat mempengaruhi seseorang untuk bisa menjadi
seorang pemimpin? Dimanakah seorang pemimpin akan memperoleh kekuasaanya?
Bagaiamana mereka membayar janji-janjinya? Bagaimana seorang pemimpin
memperhatikan partai-partai dan konstituennya?.
Dalam hal ini kita akan mencoba membedah bagaimana
pemimpin daerah Kalimantan Utara mendapatkan kekuasaannya. Kalimantan utara
merupakan provinsi baru hasil dari pemekaran Provinsi Kalimantan Timur. Selama terbentuk
Kalimantan Utara sudah tumbuh pesat. Hal ini tidak jauh – jauh dari bagaimana
pemimpin Kalimantan Utara menjalankan tugasnya. Provinsi yang diresmikan pada
tanggal 22 April 2012 berhasil meraih pertumbuhan ekonomi tertinggi pada
triwulan – II tahun 2019 yang diresmikan oleh BPS Kalimantan Utara. Dr, Ir H Irianto
Lambrie, MM adalah gubernur Kalimantan
Utara yang dilantik pada tahun 2016 silam sebagai gubernur pertama provinsi
Kalimantan Utara. Sebelum terjun keranah politik. Beliau aktif sebagai dosen di
berbagai Universitas dan Perguruan di Kalimantan. Ia juga aktif sebagai Pegawai
Negeri Sipil dimana ia sering dipercaya menjadi pemimpin, dan ia juga pernah
menjadi sekretaris. Irianto Lambrie sendiri pernah menjadi Anggota MPR RI pada
masa jabatan (1992 – 1997).
Lalu bagaimana
cara belau untuk menjadi pemimpin daerah. Sebelum menjadi gubernur Kal- Tara,
Irianto Lambrie menjabat sebagai Sekda Povinsi Kalimantan Timur setelah itu Ia
menjabat sebagai Pj Gubernur Kalimantan Utara selama menjadi Pj Irianto Lambri
rajin turun langsung kemasyarakat contohnya adalah ikut langsung dalam panen
raya dan juga meninjau langsung wilayah banjir. Pada Tahun 2016 beliau
mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Utara dan terpilih sebagai
Gubernur Kalimantan Utara. Selama proses kampanye, Irianto Lambrie banyak
berbicara tentang Kal – tara kedepannya. Mulai dari mengembangkan
Infrastruktur, hingga pengembangan ekonomi. Saat mencalonkan diri, beliau
diusung oleh beberapa partai yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan
Bintang (PBB), Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Irianto lambrie
sudah banyak dikenal oleh masyarakat Kal – Tara, selain saat ia menjabat
sebagai Pj Gubernur latar belakangnya sebagai organisatoris juga membuatnya
banyak dikenal masyarakat. Contohnya adalah Ketua Umum Kerukunan Bubuhan Banjar
Kalimantan Timur Periode 2010 - 2015, Ketua Umum Pengurus FORKI Provinsi Kaltim
Periode 2012 - 2017, Ketua Umum DPD Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Provinsi
Kaltim Periode 2012 – 2017. Dengan begitu ia sangat dikenal baik dari kalangan
Mahasiswa, Atlit – Atlit dan juga Masyarakat Kalimantan.
Selama masa Jabatan Irianto Lambrie
mulai dari Pj hingga Menjadi gubernur. Banyak peningkatan – peningkatan pada
provinsi Kalimantan Utara baik dari segi ekonomi hingga pembangunan –
pembangunan. Contohnya adalah pembangunan ruas jalan Malinau-Krayan (Long Bawan
dan Long Midang), lalu ada juga pembangunan PLTU dan juga pembangunan 3.440
unit rumah untuk warga kurang mampu. Dilansir dari Instagram @kaltaraprov. Banyak
program – program yang dijalankan dimasa jabatan Irianto Lambrie.
Langganan:
Komentar (Atom)